Penjara tanpa Jeruji: Kisah di Balik Bobby dalam Novel Broken Strings


Jujur, setelah scroll media sosial dan baca beberapa tulisan di website tentang buku Broken Strings, aku merasa seperti ada yang tidak beres. Kisah Aurelie ini bukan sekadar perbincangan soal “cinta monyet” yang berakhir pahit, tapi lebih ke arah bagaimana sebuah relasi bisa jadi penjara tanpa jeruji. Tanganku menjadi semakin gatal untuk mengulik: ada apa sih sama si Bobby, apa yang ada di otaknya, kok bisa melakukan sesuatu seenaknya? Kalau aku amati polanya, Bobby ini bukan sedang kasmaran karena jatuh cinta. Dia itu lagi “mabuk” kekuasaan.
Terbiasa Didengar, Terbiasa Berkuasa
Bobby itu tipe orang yang mungkin seumur hidupnya kepingin selalu menjadi “pusat semesta”. Apalagi setelah melihat ibunya yang menyanjungnya—tipe enabler yang membuat Bobby merasa tidak pernah salah. Ada riset dari Gumpel yang menjelaskan kalau narsisme dan status sosial itu sering kali jadi pemicu agresi. Bobby merasa punya kendali dan hak untuk mengatur hidup orang lain karena dia terbiasa didengar dan berkuasa, baik dalam relasi cintanya atau relasi kepada kedua orang tuanya.
Aurelie yang pemalu, kurang pergaulan dan merasa terasingi di Belgia itu ibarat “sasaran empuk” bagi Bobby untuk dimanipulasi. Bagi Bobby, Aurelie itu bukan pasangan, namun proyek untuk dikontrol. Bobby baru merasa “hidup” saat Aurelie sudah tidak mampu lagi melawan. Di situ letak candunya: melihat orang lain tunduk di bawah ketiaknya.
Taktik Penjara Pikiran: Gaslighting dan Coercive Control
Hatiku seperti tercabik-cabik saat membaca bahwa penolakan Aurelie kepada Bobby itu “egois”. Itu teknik manipulasi tingkat tinggi yang namanya Gaslighting. Seperti yang ditulis Kate Abramson, tujuannya cuma satu: buat korban merasa ragu sama pikiran atau nalarnya sendiri. Bobby ingin Aurelie percaya kalau satu-satunya kebenaran di dunia ini hanya omongan Bobby. Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis yang paling halus di mana pelaku berhasil membuat korban meragukan pikirannya, persepsinya, kewarasan dirinya. Ciri-ciri penyakit ini pelaku sering menyudutkan korban, berbohong secara konsisten, mengalihkan pembicaraan.
Tidak hanya penyakit itu, Bobby juga melakukan Coercive Control. Istilah dari Evan Stark ini menjelaskan tentang pelaku mematikan hak dasar korbannya secara perlahan. Kontrol Koersif adalah pola perilaku kekerasan yang terus-menerus untuk mendominasi, mengintimidasi seseorang. Perilaku ini seringnya berada dalam hubungan intim. Dia mengisolasi Aurelie dari orang tuanya, dia mencuci otaknya, bahkan dia pakai ancaman KBGO untuk buat Aurelie takut. Bobby mampu menciptakan suasana di mana Aurelie merasa tidak ada siapa-siapa selainnya.
Obsesi dari Ketidakberdayaan
Ada inti yang buat aku merinding, saat Bobby merasa terganggu dengan darah haid Aurelie yang tak kunjung berhenti. Di sini kelihatan sekali kalau Bobby tidak cuma ingin mengontrol pikirannya, tapi juga tubuh Aurelie. Baginya, rasa sakit, pucat, seperti kekurangan darah Aurelie ini adalah bentuk dari “ketidakpatuhan” tubuh Aurelie terhadapnya. Ironis, kan? Tubuh Aurelie harus tunduk kepadanya, bagaikan konsumsi dogma dari otoritas keagamaan.
Bahkan ketika Bobby ketakutan setengah mati karena Aurelie ingin mengadu ke orang tuanya, yang keluar dari mulutnya justru ancaman. Kadang disampaikan halus, kadang blak-blakan: hidup Aurelie bakal hancur kalau ia berani bicara. Buatku, ini bukan lagi soal emosi sesaat. Ini sudah jadi cara untuk memastikan satu hal: Aurelie tetap diam. Di titik ini, Bobby tidak sedang bersikap sebagai pasangan. Ia sudah berubah jadi seseorang yang merasa punya kuasa atas masa depan orang lain. Polanya sederhana tapi kejam: kalau kamu diam, kamu aman. Kalau kamu bicara, kamu habis.
Dari sini kelihatan jelas, obsesi Bobby lahir dari ketakutannya sendiri. Ia takut kehilangan kontrol, takut citranya runtuh, takut kekuasaannya dipatahkan oleh suara perempuan yang selama ini ia bungkam. Maka pilihannya satu: menciptakan rasa takut. Karena ketika kekuasaan terancam, yang keluar bukan cinta, tapi kekerasan.
Di sinilah Broken Strings terasa lebih dari sekadar novel. Ia seperti cermin yang memantulkan sesuatu yang sering kita anggap sepele. Relasi yang kelihatannya dekat, intens, penuh perhatian—tapi diam-diam penuh kontrol. Aurelie bukan lemah. Ia sedang dilumpuhkan pelan-pelan. Penjaranya tidak pakai jeruji, tapi dibangun dari rasa takut, rasa bersalah, dan kebohongan yang terus diulang sampai terdengar seperti kebenaran.
Jadi membaca Bobby itu bukan untuk mencari alasan atau pembenaran. Justru sebaliknya, supaya kita lebih peka mengenali tanda. Karena hubungan yang sehat tidak pernah menuntut kepatuhan total. Tidak pernah memaksa seseorang untuk diam. Dan tidak pernah menjadikan cinta sebagai alat menguasai.
Harapanku sederhana, terutama buat anak-anak dan remaja yang sekarang lebih cepat mengenal rasa suka dan tertarik. Tolong percaya bahwa cinta itu bukan soal takut, bukan soal nurut, bukan soal kehilangan suara. Cinta tumbuh dari rasa aman untuk jadi diri sendiri, dari kebebasan berpikir, dari saling menerima dan memberi—bukan saling mengendalikan.
Dan akhirnya, aku berharap kita berhenti menormalisasi figur-figur seperti Bobby. Laki-laki yang mengira cinta adalah alasan untuk berkuasa atas orang lain. Kalau sebuah hubungan membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri, itu bukan cinta. Dan semoga, selalu ada jalan keluar. Semoga suara korban tidak lagi dipaksa diam, dan selalu punya tempat untuk didengar.

Red: Raisa Zuhra Salsabila Awaludin

Kolom Terpopuler